Inti Bumi memiliki suhu sekitar 5.400 derajat Celsius. Suhu tersebut hampir menyamai permukaan Matahari yang mencapai sekitar 5.500 derajat Celsius.
Panas ekstrem itu merupakan sisa energi sejak pembentukan Bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Saat planet terbentuk, tumbukan benda langit dan pemadatan material menghasilkan energi panas dalam jumlah sangat besar. Sebagian panas tersebut masih tersimpan hingga sekarang.
Selain panas sisa, Bumi terus menghasilkan energi melalui peluruhan unsur radioaktif. Uranium, thorium, dan kalium menjadi beberapa sumber utama panas internal tersebut. Proses peluruhan berlangsung sangat lama sehingga terus memasok energi ke bagian dalam planet.
Tekanan yang sangat besar di pusat Bumi juga membuat inti bagian dalam tetap berada dalam kondisi padat. Lapisan inti terdiri terutama dari besi dan nikel. Suhu tinggi tidak langsung membuatnya mencair karena tekanan di sana sangat ekstrem. Sementara itu, inti luar tetap berbentuk cair.
Panas dari dalam Bumi perlahan bergerak menuju permukaan melalui mantel dan kerak. Perpindahan energi tersebut ikut mendorong proses konveksi di interior Bumi. Pergerakan inti luar juga berperan dalam menghasilkan medan magnet yang melindungi planet dari lingkungan luar angkasa.
Meski terus kehilangan panas, Bumi tidak mendingin dengan cepat karena sumber panas internal masih bekerja. Proses tersebut berlangsung sangat lambat dibandingkan skala kehidupan manusia. Itulah sebabnya inti Bumi tetap sangat panas setelah miliaran tahun.







