Korea Selatan tengah menikmati lonjakan wisatawan asing yang didorong popularitas K-Pop dan budaya Korea. Namun, wisata sejarah kelam masih kesulitan menarik banyak pengunjung asing. Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan antara popularitas K-Culture dan wisata sejarah.
Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan menyoroti kesenjangan tersebut. Salah satu contohnya terlihat di Seodaemun Prison History Hall di Seoul. Lokasi tersebut hanya mencatat 1.433 pengunjung asing sepanjang 2024. Angka itu jauh dibandingkan Gyeongbokgung yang dikunjungi sekitar 2,78 juta wisatawan asing pada 2025.
Minat terhadap tur sejarah juga masih menghadapi tantangan dari sisi penyelenggaraan. Tourstory menawarkan 16 paket tur menuju situs sejarah setiap bulan. Namun, sekitar separuh paket tersebut dibatalkan karena jumlah peserta tidak mencukupi. Pelaku industri menilai kurangnya program menarik menjadi salah satu penyebab rendahnya minat wisatawan.
Padahal, minat wisatawan terhadap sejarah Korea sebenarnya mulai berkembang. Data Korea Culture and Tourism Institute menunjukkan 35,3 persen wisatawan asing mengunjungi istana atau situs bersejarah pada 2025. Sebanyak 21,4 persen juga mengunjungi museum dan ruang pameran. Tingkat kunjungan ulang wisatawan mencapai 56,6 persen pada tahun yang sama.
Popularitas K-Culture justru dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah Korea. Pemerintah dan pelaku wisata didorong membuat narasi yang lebih menarik dan mudah dipahami. Promosi melalui media sosial juga dinilai penting untuk menjangkau wisatawan asing. Dengan strategi tersebut, wisata sejarah berpeluang berkembang mengikuti tren pariwisata Korea.






