Pakta Pertahanan Bersama Mekkah menjadi sorotan setelah diumumkan oleh Turkiye, Arab Saudi, dan Pakistan. Perjanjian itu memperkuat kerja sama pertahanan ketiga negara. Kesepakatan ditandatangani di Mekkah pada Agustus 2026. Pakta tersebut mengadopsi prinsip pertahanan kolektif terhadap ancaman bersenjata.
Kekuatan militer gabungan ketiga negara diperkirakan mencapai sekitar 1,4 juta personel aktif. Jumlah itu berasal dari angkatan bersenjata masing-masing negara. Armada udaranya diperkirakan melampaui 3.400 pesawat militer. Ketiga negara juga memiliki ratusan helikopter tempur. Selain itu, mereka mengoperasikan ribuan kendaraan lapis baja serta ratusan kapal perang.
Turkiye dikenal memiliki industri pertahanan yang berkembang pesat. Negara itu memproduksi drone tempur Bayraktar dan berbagai kendaraan militer modern. Arab Saudi mempunyai anggaran pertahanan terbesar di kawasan Timur Tengah. Pakistan menjadi salah satu negara berkekuatan nuklir dengan pengalaman panjang dalam operasi militer. Kombinasi tersebut memperkuat kemampuan pertahanan aliansi baru itu.
Pakta Mekkah berbeda dengan Islamic Military Counter Terrorism Coalition atau IMCTC. IMCTC merupakan koalisi antiteror yang dipimpin Arab Saudi sejak 2015. Organisasi itu kini beranggotakan lebih dari 40 negara Muslim. Fokus utamanya adalah pemberantasan terorisme melalui kerja sama militer, pelatihan, komunikasi, dan pencegahan pendanaan terorisme. Sementara Pakta Mekkah merupakan perjanjian pertahanan kolektif antara tiga negara.






