Harga minyak dunia kembali menguat setelah peluang pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai semakin kecil. Pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026, harga minyak mentah Brent naik sekitar 1 persen menjadi US$89,81 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,1 persen ke US$84,08 per barel. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Sentimen pasar memburuk setelah terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Iran juga menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga tuntutannya terkait penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat dipenuhi. Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya delapan kapal dalam sehari. Angka tersebut jauh di bawah kondisi normal yang mencapai sekitar 125 hingga 140 kapal setiap hari.
Laporan terbaru International Energy Agency (IEA) menyebut peluang pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum terlihat. Lembaga tersebut kembali memangkas proyeksi pasokan minyak global pada 2026 menjadi sekitar 102,02 juta barel per hari. IEA menilai konflik yang berlanjut di Timur Tengah akan memperdalam defisit pasokan minyak dunia. Sementara itu, U.S. Energy Information Administration (EIA) memperkirakan sebagian produksi minyak di kawasan tersebut tetap terganggu hingga akhir 2027.
Ketidakpastian di Selat Hormuz terus menjadi perhatian pelaku pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global biasanya melewati selat tersebut. Apabila gangguan terus berlanjut, harga minyak diperkirakan tetap berada pada level tinggi dan berpotensi mendekati atau bahkan menembus US$90 per barel. Kondisi ini juga dapat meningkatkan biaya energi, transportasi, dan logistik di berbagai negara yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.







