Jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke Pulau Jeju, Korea Selatan, mulai menurun setelah maraknya rumor kasus orang hilang. Narasi tentang “Jeju horror story” menyebar luas melalui media sosial. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran menjelang musim wisata musim gugur.
Asosiasi Pariwisata Jeju mencatat kunjungan wisatawan domestik pada 1-29 Agustus turun 1,9 persen. Padahal, jumlah kunjungan sempat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya hingga pertengahan Agustus. Penurunan semakin terlihat setelah penemuan jasad Jang Mi-ran pada 24 Agustus.
Jika dibandingkan periode yang sama berdasarkan hari, penurunannya bahkan mencapai 5,4 persen. Jeju menerima 202.234 wisatawan domestik pada 24-29 Agustus 2026. Sementara periode pembanding tahun sebelumnya mencapai 213.706 wisatawan. Penurunan harian kemudian meningkat hingga mencapai 10 persen pada Sabtu.
Kekhawatiran publik muncul setelah empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dalam tiga hari. Polisi belum menemukan bukti yang menghubungkan kasus-kasus tersebut dengan tindak kriminal. Namun, kasus-kasus berbeda tersebut ramai dibagikan secara bersamaan di internet. Informasi yang belum terverifikasi kemudian memunculkan narasi seolah Jeju menjadi pulau berbahaya.
Pemerintah Provinsi Jeju meminta masyarakat menghentikan penyebaran informasi yang belum terbukti. Pemerintah juga membentuk sistem respons khusus bersama kepolisian dan pemadam kebakaran. Penguatan CCTV, penerangan, serta pemantauan berbasis kecerdasan buatan turut disiapkan. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan keamanan sekaligus memulihkan kepercayaan wisatawan.
Meski kunjungan domestik menurun, dampaknya terhadap pemesanan perjalanan belum terlihat besar. Sejumlah agen perjalanan menyebut belum terjadi pembatalan dalam skala signifikan. Wisatawan asing juga belum menunjukkan penurunan serupa. Data resmi Jeju mencatat kunjungan wisatawan asing justru meningkat 8,7 persen dalam periode bulanan yang tercatat.






