Tetra Pak melihat peluang besar dalam perkembangan industri kelapa global, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa. Perusahaan teknologi pengolahan dan pengemasan makanan tersebut menilai permintaan produk berbasis kelapa terus berkembang. Air kelapa dan krim kelapa menjadi dua kategori yang dinilai memiliki prospek kuat.
Tetra Pak mencatat pasar air kelapa global diproyeksikan mencapai 4,7 miliar euro pada 2029. Konsumsinya tumbuh rata-rata 12,6 persen per tahun sepanjang 2020 hingga 2025. Pertumbuhan berikutnya diperkirakan tetap mencapai sekitar 7 persen setiap tahun hingga 2029.
Sementara itu, pasar krim kelapa diperkirakan mencapai 3,9 miliar euro pada 2029. Pertumbuhannya bahkan diproyeksikan mencapai 9,92 persen per tahun selama 2025 hingga 2029. Tetra Pak menyebut permintaan produk kelapa di Amerika Serikat dan Eropa terus menunjukkan pertumbuhan dua digit.
Peluang tersebut semakin menarik karena 89 persen konsumen global disebut memiliki pandangan positif terhadap produk kelapa. Namun, hanya sekitar 1 persen peluncuran produk makanan dan minuman global pada 2019-2024 menggunakan bahan kelapa. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang besar untuk inovasi produk berbasis kelapa.
Indonesia juga memiliki peluang besar memanfaatkan tren tersebut. Kementerian Perdagangan mencatat pasar produk turunan kelapa global mencapai US$28,95 miliar pada 2025. Nilainya diproyeksikan meningkat menjadi US$46,32 miliar pada 2030. Minuman kelapa, minyak kelapa, dan produk oleokimia termasuk komoditas dengan peluang ekspor besar.
Tetra Pak menilai pengolahan kelapa membutuhkan teknologi khusus karena produknya mudah mengalami kerusakan. Teknologi pemrosesan dan kemasan aseptik dapat membantu menjaga rasa serta kualitas air kelapa. Di sisi lain, Indonesia sedang mendorong hilirisasi agar lebih banyak nilai tambah dinikmati industri dan petani domestik.







