Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Israel aktif menghambat upaya diplomasi Teheran dan Amerika Serikat. Araghchi menyebut Israel sebagai penghalang utama tercapainya kesepakatan gencatan senjata permanen. Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan Iran dan AS kembali memanas.
Araghchi menilai tindakan Israel telah mengganggu proses diplomatik yang sebelumnya membuka peluang penyelesaian konflik. Iran dan AS sebelumnya menyepakati kerangka sementara untuk menghentikan permusuhan. Kesepakatan tersebut juga memberikan ruang bagi pembahasan lanjutan terkait isu Selat Hormuz.
Namun, proses negosiasi kini menghadapi kebuntuan. Amerika Serikat menolak memperpanjang kesepakatan sementara yang berlaku selama 60 hari. Washington dan Teheran juga memiliki perbedaan mengenai isi serta pelaksanaan kesepakatan tersebut. Kondisi itu membuat peluang tercapainya perjanjian baru semakin sulit.
Ketegangan turut meningkat setelah Iran mengancam mengambil langkah militer jika diplomasi tidak menghasilkan kemajuan. Seorang pejabat Iran mengatakan Teheran dapat meningkatkan tekanan terhadap blokade laut AS. Iran juga mempertahankan penutupan Selat Hormuz hingga tuntutannya dipenuhi.
Kebuntuan diplomasi tersebut mulai berdampak pada pasar energi internasional. Harga minyak Brent naik menjadi sekitar 91,07 dolar AS per barel pada Selasa. Investor khawatir konflik berkepanjangan mengganggu pasokan energi melalui kawasan Teluk. Perkembangan diplomasi Iran, AS, dan Israel kini menjadi perhatian utama pasar global.






