Perlombaan menuju Bulan kembali memanas seiring Amerika Serikat, China, dan perusahaan swasta meningkatkan aktivitas antariksa. Namun, para ilmuwan kini mengkhawatirkan dampak lain dari meningkatnya misi tersebut. Bulan berisiko dipenuhi sampah buatan manusia jika tidak ada aturan pengelolaan yang lebih jelas.
Kekhawatiran itu kembali mencuat setelah bagian atas roket Falcon 9 SpaceX menghantam Bulan pada 5 Agustus 2026. Benda berbobot sekitar empat ton tersebut jatuh dekat Kawah Einstein dengan kecepatan sekitar 5.400 mil per jam. Tabrakan itu menghasilkan kawah baru dan semburan material dari permukaan Bulan.
Peristiwa tersebut bukan sekadar kecelakaan antariksa biasa. Space.com mencatat lebih dari 3.000 benda buatan manusia sudah berada di permukaan Bulan. Sebagian merupakan perangkat bersejarah, termasuk modul Apollo dan wahana penjelajah dari berbagai negara. Namun, sebagian lainnya merupakan sisa misi yang tidak direncanakan untuk menjadi peninggalan permanen.
Masalahnya, aktivitas eksplorasi Bulan diperkirakan semakin meningkat dalam beberapa tahun mendatang. NASA menargetkan pendaratan astronaut berikutnya melalui program Artemis. China juga mengembangkan sistem untuk mengirim astronaut ke Bulan sebelum 2030. Persaingan tersebut membuat kebutuhan pengelolaan lingkungan Bulan semakin mendesak.
Para ilmuwan menilai aturan internasional perlu mengikuti perkembangan eksplorasi tersebut. Traktat Luar Angkasa 1967 sudah mengatur pencegahan kontaminasi berbahaya. Namun, aturan tersebut belum memberikan ketentuan rinci mengenai sampah di permukaan Bulan. Tanpa pengelolaan lebih baik, Bulan bisa menghadapi persoalan baru sebelum era eksplorasi permanen benar-benar dimulai.







