Fenomena pergeseran tanah terjadi di sejumlah wilayah Flores setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. BMKG menjelaskan perubahan tersebut berkaitan dengan deformasi permukaan bumi.
Gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Episenternya berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa tersebut dipicu aktivitas sesar naik pada Flores Back-arc Thrust.
Menurut BMKG, gempa besar dapat menyebabkan displacement permanen atau perubahan posisi permukaan tanah. Fenomena tersebut disebut deformasi coseismic dan terjadi ketika kerak bumi mengalami perubahan mendadak.
Perubahan permukaan tidak selalu sama di setiap lokasi. Kondisi tanah, karakteristik batuan, jarak dari sumber gempa, dan rambatan gelombang turut memengaruhi respons permukaan. Karena itu, wilayah berdekatan dapat mengalami tingkat kerusakan berbeda.
BMKG juga melakukan survei mikroseismik untuk memetakan karakteristik tanah serta struktur bawah permukaan di wilayah terdampak. Pengukuran tersebut menggunakan metode mikrotremor dan MASW.
Fenomena pergeseran tanah perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan perubahan kestabilan permukaan. BMKG masih memverifikasi temuan lapangan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai dampak gempa.
Hingga awal September, aktivitas gempa susulan masih tercatat di wilayah Flores. BMKG menyebut rangkaian gempa susulan dapat berlangsung selama beberapa minggu setelah gempa utama.







