Penelitian NASA Ungkap Jejak Matahari dalam Perubahan Iklim Bumi di Masa Lalu

0 0
Read Time:1 Minute, 17 Second

Penelitian terbaru yang didanai NASA mengungkap pengaruh Matahari terhadap iklim Bumi jauh lebih kompleks. Dua studi menelusuri sejarah Matahari dan hubungan tata surya dengan lingkungan antarbintang. Temuan tersebut membantu menjelaskan sejumlah perubahan iklim yang terjadi pada masa lalu.

Salah satu penelitian menyoroti heliosfer, gelembung raksasa yang dibentuk angin Matahari dan medan magnet. Saat tata surya bergerak melewati galaksi, heliosfer dapat bertemu awan antarbintang yang sangat dingin dan padat. Kondisi tersebut berpotensi menekan heliosfer hingga menyusut melewati orbit Bumi.

Simulasi menunjukkan penyusutan heliosfer dapat membuat Bumi lebih terpapar material dari ruang antarbintang. Paparan tersebut kemudian dapat mengubah kandungan uap air dan dinamika atmosfer bagian atas. Perubahan itu berpotensi memengaruhi kondisi permukaan serta pola iklim Bumi. Peneliti mengaitkannya dengan beberapa perubahan iklim kuno, termasuk kemungkinan periode zaman es.

Studi lainnya meneliti kondisi Matahari ketika usianya masih jauh lebih muda. Saat itu, Matahari diperkirakan lebih redup dibandingkan sekarang. Namun, aktivitas partikel berenergi tinggi dapat membantu memicu reaksi kimia di atmosfer Bumi awal. Eksperimen menunjukkan bombardir proton dapat menghasilkan dinitrogen oksida atau nitrous oxide.

Gas tersebut merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat. Simulasi peneliti menunjukkan sebagian kecil gas itu dapat membantu menjaga suhu Bumi awal tetap berada di atas titik beku. Temuan tersebut memberikan petunjuk mengenai bagaimana Bumi tetap memiliki kondisi yang mendukung keberadaan air cair.

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti aktivitas Matahari menjadi penyebab pemanasan global modern. NASA menegaskan variasi energi Matahari tidak cukup besar untuk menjelaskan pemanasan beberapa dekade terakhir. Data satelit sejak 1978 menunjukkan tidak ada tren kenaikan energi Matahari yang sebanding dengan peningkatan suhu Bumi.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
  • Related Posts

    Cara Menyaksikan Gerhana Bulan Sebagian 28 Agustus 2026, Aman Tanpa Alat Khusus

    Gerhana Bulan sebagian akan menghiasi langit pada Jumat, 28 Agustus 2026. Fenomena ini terjadi ketika sebagian permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan umbra Bumi. Namun, masyarakat Indonesia tidak dapat menyaksikan…

    Mitos atau Fakta, Benarkah Ikan Oarfish Pertanda Gempa dan Tsunami?

    Ikan oarfish kerap disebut sebagai “ikan kiamat” karena kemunculannya dikaitkan dengan gempa bumi dan tsunami. Kepercayaan tersebut telah berkembang dalam cerita rakyat Jepang selama bertahun-tahun. Namun, anggapan itu belum didukung…

    Average Rating

    5 Star
    0%
    4 Star
    0%
    3 Star
    0%
    2 Star
    0%
    1 Star
    0%

    You Missed

    Elon Musk Soroti Angka Kelahiran Singapura: “Manusia Sedang Menghilang”

    Elon Musk Soroti Angka Kelahiran Singapura: “Manusia Sedang Menghilang”

    Pariwisata NTT Mulai Normal Pascagempa, Kemenpar Siapkan Destinasi Baru

    Pariwisata NTT Mulai Normal Pascagempa, Kemenpar Siapkan Destinasi Baru

    Penelitian NASA Ungkap Jejak Matahari dalam Perubahan Iklim Bumi di Masa Lalu

    Penelitian NASA Ungkap Jejak Matahari dalam Perubahan Iklim Bumi di Masa Lalu

    Harga Minimum Saham Rp1 Masuk Tahap Uji Coba, BEI Targetkan Berlaku September

    Harga Minimum Saham Rp1 Masuk Tahap Uji Coba, BEI Targetkan Berlaku September

    AS Kerahkan USS Theodore Roosevelt ke Timur Tengah, Misi Hadapi Iran Berlangsung 7 Bulan

    AS Kerahkan USS Theodore Roosevelt ke Timur Tengah, Misi Hadapi Iran Berlangsung 7 Bulan

    3 Maskapai Budget Korea Merger di Bawah Jin Air Mulai 2027, Jadi LCC Terbesar

    3 Maskapai Budget Korea Merger di Bawah Jin Air Mulai 2027, Jadi LCC Terbesar