Penelitian terbaru yang didanai NASA mengungkap pengaruh Matahari terhadap iklim Bumi jauh lebih kompleks. Dua studi menelusuri sejarah Matahari dan hubungan tata surya dengan lingkungan antarbintang. Temuan tersebut membantu menjelaskan sejumlah perubahan iklim yang terjadi pada masa lalu.
Salah satu penelitian menyoroti heliosfer, gelembung raksasa yang dibentuk angin Matahari dan medan magnet. Saat tata surya bergerak melewati galaksi, heliosfer dapat bertemu awan antarbintang yang sangat dingin dan padat. Kondisi tersebut berpotensi menekan heliosfer hingga menyusut melewati orbit Bumi.
Simulasi menunjukkan penyusutan heliosfer dapat membuat Bumi lebih terpapar material dari ruang antarbintang. Paparan tersebut kemudian dapat mengubah kandungan uap air dan dinamika atmosfer bagian atas. Perubahan itu berpotensi memengaruhi kondisi permukaan serta pola iklim Bumi. Peneliti mengaitkannya dengan beberapa perubahan iklim kuno, termasuk kemungkinan periode zaman es.
Studi lainnya meneliti kondisi Matahari ketika usianya masih jauh lebih muda. Saat itu, Matahari diperkirakan lebih redup dibandingkan sekarang. Namun, aktivitas partikel berenergi tinggi dapat membantu memicu reaksi kimia di atmosfer Bumi awal. Eksperimen menunjukkan bombardir proton dapat menghasilkan dinitrogen oksida atau nitrous oxide.
Gas tersebut merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat. Simulasi peneliti menunjukkan sebagian kecil gas itu dapat membantu menjaga suhu Bumi awal tetap berada di atas titik beku. Temuan tersebut memberikan petunjuk mengenai bagaimana Bumi tetap memiliki kondisi yang mendukung keberadaan air cair.
Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti aktivitas Matahari menjadi penyebab pemanasan global modern. NASA menegaskan variasi energi Matahari tidak cukup besar untuk menjelaskan pemanasan beberapa dekade terakhir. Data satelit sejak 1978 menunjukkan tidak ada tren kenaikan energi Matahari yang sebanding dengan peningkatan suhu Bumi.







