Hubungan Jepang dan Rusia kembali memanas setelah sebuah monumen perang kontroversial diresmikan di Khabarovsk, Rusia Timur Jauh. Monumen tersebut dibuat untuk memperingati kemenangan Uni Soviet atas Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II. Namun, bentuk patung yang dianggap menyinggung simbol Jepang memicu protes dari pemerintah Tokyo.
Monumen setinggi sekitar 15 meter itu menampilkan seorang tentara Uni Soviet yang digambarkan menghancurkan sebuah patok perbatasan menggunakan popor senapan. Patok tersebut memiliki ukiran lambang bunga krisan dan tulisan yang merujuk pada Kekaisaran Jepang. Bagi Rusia, simbol tersebut merepresentasikan militerisme Jepang pada masa perang.
Namun, Jepang memiliki pandangan berbeda. Konsulat Jenderal Jepang di Khabarovsk menyampaikan keberatan karena bunga krisan merupakan simbol penting bagi kekaisaran dan keluarga kekaisaran Jepang. Pihak Jepang bahkan meminta agar bagian patok yang memuat simbol tersebut dicabut dari monumen. Permintaan itu disampaikan menjelang acara peresmian pada 4 September 2026.
Rusia kemudian menolak permintaan tersebut. Bagi Moskow, penggunaan simbol itu merupakan bagian dari narasi sejarah mengenai kemenangan atas Jepang pada akhir Perang Dunia II. Perselisihan mengenai monumen ini muncul ketika hubungan kedua negara memang sedang berada dalam kondisi kurang baik. Jepang dan Rusia masih berselisih mengenai Kepulauan Kuril, sementara Tokyo juga menerapkan sanksi terhadap Rusia terkait perang di Ukraina.
Ketegangan terbaru ini menunjukkan bagaimana simbol dan peninggalan sejarah masih dapat memengaruhi hubungan diplomatik Jepang-Rusia. Terlebih, kedua negara memiliki perbedaan pandangan mengenai sejumlah peristiwa Perang Dunia II dan wilayah yang disengketakan. Monumen di Khabarovsk pun kini menjadi simbol baru dari perseteruan sejarah dan politik yang belum sepenuhnya mereda.






