Korea Utara menegaskan tidak akan mengubah kebijakan nuklirnya meski Amerika Serikat kembali menyerukan denuklirisasi. Pyongyang justru berjanji memperkuat kekuatan nuklirnya. Pernyataan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri Korut pada Senin (31/8/2026).
Sikap tersebut muncul setelah Departemen Luar Negeri AS menegaskan kembali komitmen terhadap denuklirisasi penuh Korea Utara. Washington menyampaikan posisi tersebut pada 26 Agustus. AS tetap membuka peluang dialog dengan Pyongyang di tengah upaya Presiden Donald Trump bertemu Kim Jong Un.
Kementerian Luar Negeri Korut menilai seruan denuklirisasi sebagai bagian dari kebijakan bermusuhan Washington. Pyongyang juga menyoroti kritik AS mengenai hak asasi manusia. Selain itu, Korut mengecam rencana latihan militer AS, Korea Selatan, dan Jepang.
Pyongyang menyebut senjata nuklir sebagai jaminan mutlak untuk mempertahankan kedaulatan. Pemerintah Korut juga menegaskan status nuklir negaranya tidak akan melemah. Seruan denuklirisasi dari AS dinilai tidak mampu mengubah posisi tersebut. Korut bahkan menjanjikan respons paling keras terhadap kebijakan Washington.
Sikap Korut muncul setelah Trump mengambil sejumlah langkah yang dianggap lebih lunak. Washington sebelumnya mengurangi skala latihan militer bersama Korea Selatan. Trump juga menyatakan memiliki hubungan baik dengan Kim Jong Un. Ia bahkan menyampaikan harapan dapat bertemu kembali dengan pemimpin Korut tersebut.
Namun, peluang mencairkan hubungan masih menghadapi hambatan besar. AS tetap menjadikan denuklirisasi sebagai kebijakan resmi terhadap Pyongyang. Di sisi lain, Korea Utara semakin menegaskan status nuklirnya sebagai kepentingan keamanan utama. Ketegangan juga berpotensi meningkat menjelang latihan Freedom Edge pada 7-11 September.






